Share it

Kamis, 29 November 2007

Waru, Redakan Panas yang Menderu



Oleh Hendri Nova

Tumbuhan yang satu ini, sangat mudah ditemui di sepanjang pantai Sumatra Barat. Bahkan di pulau-pulau tengah laut, pohon ini bisa tumbuh dengan manis. Selain itu, ia juga tumbuh liar di hutan dan di ladang. Tidak jarang juga, ia ditanam di pekarangan rumah, ataupun di tepi jalan. Pohonnya yang rimbun, bisa dijadikan tempat berlindung dari sengatan cahaya matahari.
Bagi sebagian besar masyarakat pantai, ia dikenal dengan nama batang baru. Sementara dalam bahasa Indonesia, ia disebut pohon waru (Hibiscus tiliaceus L.). Jika sudah besar, batangnya bisa dijadikan sebagai penyeimbang, pada perahu-perahu nelayan.
Jika ingin melihat tumbuhan ini secara langsung, silahkan ke Pantai Bung Hatta, Pantai Padang, atau kawasan pantai lainnya. Tidak hanya di kawasan pantai Padang saja tentunya, tetapi juga di seluruh kabupaten yang berada di pinggir laut.
Daunnya yang lebar, bisa digunakan sebagai daun pembungkus. Tidak jarang juga, sebagian masyarakat Indonesia, menjadikan pucuk daunnya sebagai sayuran. Pohonnya bisa mencapai tinggi 5-15 meter, batangnya berkayu, bulat bercabang dengan warna coklat.
Dari segi fisik daun, bentuknya seperti jantung atau bundar telur, diameter sekitar 19 cm. Pertulangannya menjari, bewarna hijau, dan bagian bawah berambut abu-abu rapat.
Bunganya berdiri sendiri atau 2-5 dalam tandan, bertaju 8-11 buah, berwarna kuning dengan noda ungu pada pangkal bagian dalam. Kemudian Ia berubah menjadi kuning merah dan akhirnya menjadi kemerah-merahan. Buahnya bulat telur, berambut lebat, beruang lima, panjang sekitar 3 cm, berwarna cokelat. Bijinya kecil dan berwarna coklat muda.
Kulit kayunya berserat, dan bagi masyarakat pantai, biasanya digunakan untuk membuat tali. Waru dapat diperbanyak dengan biji, atau dengan cara stek batang. Batang yang sudah di potong, kemu¬dian ditancapkan ke tanah, tidak berapa lama kemudian, tunas muda akan segera tumbuh.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui kalau daun waru berkha¬siat antiradang, antitoksik, peluruh dahak dan peluruh kencing. Sementara akarnya berkhasiat sebagai penurun panas dan peluruh haid.
Setelah dilakukan kajian lebih lanjut, diketahui zat-zat yang bisa membuatnya memiliki khasiat seperti di atas. Di mana daunnya mengandung saponin, flavonoida dan polifenol, sedangkan akarnya mengandung saponin, flavonoida dan tanin
Untuk kebutuhan obat, bisa dimanfaatkan daun, akar dan bunga. Daunnya diketahui bisa mengobati penyakit Paru-paru, batuk,sesak napas, radang amandel (tonsilitis),demam, berak darah dan lendir pada anak, muntah darah. Selain itu, juga dapat mengobati radang usus, bisul, abses, keracunan singkong, penyubur rambut dan penguat rambut rontok. Sedangkan akarnya, bisa mengobati terlam¬bat haid dan demam. Adapun bunganya, dapat mengobati radang mata.
Jika anda ingin mendapatkan manfaat dari pohon waru, maka untuk obat yang diminum, gunakan daun segar sebanyak 50-100g atau 15-30g bunga. Kemudian direbus dan air rebusannya diminum..
Untuk obat luar, giling daun waru segar secukupnya sampai halus. Tutupkan hasil gilingan pada penyakit kulit, seperti bisul atau gosokkan pada kulit kepala untuk mencegah kerontokan rambut dan sebagai penyubur rambut.
Secara lebih rinci Menurut Hembing Wijaya Kusuma, untuk mengobati penyakit paru-paru, satu genggam daun waru segar dipotong-potong,lalu cuci seperlunya. Tambahkan 3 gelas minum air bersih, lalu rebus sampai airnya tersisa sekitar 3/4-nya. Setelah dingin, saring dan tambahkan air gula ke dalam air saringannya, lalu diminum, sehari 3 kali masing-masing 3/4 gelas minum.
Cara kedua, sediakan daun waru, pegagan (Centella asiatica L.) dan daun legundi (Vitex trifolia L.) masing-maisng 1/2 genggam, 1/2 bidara upas (Merremia mammosa Lour.), 1 jari rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) dan 3 jari gula enau. Cuci semua bahan-bahan, lalu potong-potong seperlunya. Masukkan kedalam periuk tanah atau panci email. Masukkan 3 gelas minum air bersih, lalu rebus sampai airnya tersisa 3/4-nya. Setelah dingin, saring dan air saringannya siap untuk diminum, sehari 3 kali masing-masing 3/4 gelas.
Demam juga bisa diatasi, dengan cara segera cuci 1/2 jari akar waru dan akar 2 tanaman lapak liman, lalu rebus dalam 3 gelas air bersih sampai tersisa separonya. Setelah dingin,saring dan air saringannya diminum,sehari 3 kali, masing-masing 1/2 gelas.
Cara kedua, rebus 15g daun waru segar dalam 2 gelas air bersih selama 20 menit. Setelah dingin, saring dan air saringannya dibagi menjadi 2 bagian sama banyak. Minum 2 kali sehari, pagi dan sore hari.
Dan cara ketiga, sediakan 15 lembar daun waru segar dan 2 batang tanaman tapak liman (Elephantopus scaber L.) beserta akarnya. Selanjutnya, remas-remas dalam 1 ember air mandi. Gunakan airnya untuk memandikan penderita demam (menggunakan handuk kecil).
Bagi yang menderita batuk, cucilah 10 lembar daun waru segar, lalu potong-potong seperlunya. Kemudian tambahkan 3 gelas minum air bersih, lalu rebus sampai tersisa 3/4 bagian. Setelah dingin saring dan air saringannya diminum, sehari 3 kali, masing-masing 1/3 bagian. Sebelum diminum, tambahkan madu secukupnya.
Batuk berdahak juga bisa diatasi dengan pohon waru. Cucilah 10 lembar daun waru yang masih muda sampai bersih, lalu tambahkan gula batu seukuran telur burung merpati. Tambahkan 3 gelas minum air bersih, lalu rebus sampai airnya tersisa 3/4 bagian. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum, sehari 3 kali minum, masing-masing 1/3 bagian.
Penderita radang amandel, silahkan cuci 1 genggam daun waru segar, lalu rebus dalam 2 gelas air bersih, sampai air rebusannya tersisa 1 1/2 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya digunakan untuk berkumur (gargle) terus diminum sehari 3-4 kali, setiap kali cukup seteguk.
Jika anda tertarik dengan pengobatan alami memakai pohon waru, maka silahkan datang ke Pantai Padang, Pantai Bung Hatta atau pantai-pantai lainnya. Atau bisa juga, anda tanam langsung po¬honnya di pekarangan rumah. ***

Dari Berbagai Sumber

Tidak ada komentar: